Aku dan Kata

Freitag, April 13, 2012

: Khansafitri

Setiap pagi kuawali kerja dengan doa sederhana
Semoga tersisa sedikit waktu sore agar dapat ku menemanimu ke sana
Di stasiun kecil pinggiran kampung untuk menanti kereta pukul lima

(Menanti Kereta Senja, Salahuddin Husein, 2010)
[Rewulu, 5 April 2010]

Freitag, Oktober 28, 2011

: Kakanda Rama

Api ini tak kan mampu membakar diriku
Karena ianya hanyalah pertanda keangkuhanmu
Kenapa Kanda malu terhadap cinta yang menjadi abu ?

(Once Upon a Time in Ayodhya - 2, Salahuddin Husein, 2010)
[Makassar, 30 Maret 2010]

Freitag, Oktober 21, 2011

Membelah hamparan padi berbatas perbukitan
Senandung parau penyanyi country iringi sejuk alam pedesaan
Baby, I’m going back home

(Country Road, Salahuddin Husein, 2010)
[Kasihan, 4 Maret 2010]

Donnerstag, Oktober 20, 2011

Temaram lampu trotoar hindari redup rembulan
Pelukanmu inginkan hatiku mengikuti angan
Kamu bukan lagi sebatas teman

: Bremen, di awal musim gugur 1999

(Lady in Red, Salahuddin Husein, 2010)
[Badung, 25 Februari 2010]

Dienstag, Oktober 18, 2011

Ketika Rahwana menculik Sinta
Bukankah cinta yang dibisikkannya
Bagai rusa berkejaran meniti rasa

(Once Upon a Time in Ayodhya - 1, Salahuddin Husein, 2010)
[Badung, 25 Februari 2010]

Montag, Oktober 17, 2011

Sepenuhnya aku percaya cinta lah yang menggerakkan kehidupan

Namun aku pun telah membuktikan hidup terus berjalan

Melangkah ringan dengan jiwa tanpa cinta berpendaran


[Pendaran Jiwa; Salahuddin Husein 2010]


: Melihat sepasang muda-mudi bercengkerama di bangku taman

Taman Pintar, 31 Januari 2010

Dienstag, September 27, 2011

Kabut mistis menyelimuti Masjid Sultan Omar Ali Saefuddin
Pada lantunan zikir usai shalat Subuh terayun jiwa yang hanyut
Pada sepinya pekan menikmati teh tarik dan roti canai terbungkus kabut
Pada pulangku kilau emas menara masjid Kampung Ayer pun terikut

(Bandar Seri Begawan, Salahuddin Husein, 20 Januari 2010)

Lelaki itu membakar kenanganku tentang
salju di wajahmu
Persinggahannya telah lukai jiwamu hingga
hancur sembilu
Aku teriakkan murka untuk cinta yang
hanya gagu :
mengapa angin teluk tak
kunjung menderu
tak lagi dihembuskannya
dingin dan salju
agar tak lagi mampu kita meraba
bekunya waktu

(Teluk nan Dingin, Salahuddin Husein, 19 Januari 2010)

Bandar Seri Begawan
: seseorang dari 7 tahun lampau

Seperti cinta lama yang tak pernah
merona
Ingin menjadi lupa namun tetap
bersua
Pada batas ada dan tiada setipis
rasa :
dan di ujung perjalanan,
tak kutemukan kata ‘terakhir’ pada
cinta

(lawatan terakhir, Salahuddin Husein, 18 Januari 2010)

[Royal Brunei kursi 54A di atas Bandar Seri Begawan]

Ketika orang mengatakan kami
konsisten terhadap ketidak-konsistenan
Membingungkan karena sesungguhnya kami
hanya memihak pada minoritas
Sebagai wujud semangat pembaharu
semenjak sejarah Nabi mulai dituliskan

(Gus Dur dalam Kenangan, Salahuddin Husein, 30 Desember 2009)

Bu Guru bilang aku takkan bisa
menggambar-Mu. Tunggu, aku coretkan Kau
di kertas ini. Jangan Kau bilang siapa pun,
lihatlah sendiri. Persis, kan?

(Suatu Hari di Taman Kanak-kanak, Sapardi Djoko Damono, 2011)